Loading...

Tangis Bahagia di Hari Wisuda Tahfidz: Saat Mimpi Kecil di SIT Ruhama Menjadi Nyata

26 November 2025 Pendidikan Admin SIT Ruhama
Tangis Bahagia di Hari Wisuda Tahfidz: Saat Mimpi Kecil di SIT Ruhama Menjadi Nyata

Suara lantunan ayat suci pelan-pelan mereda. Di depan panggung, beberapa anak berdiri dengan jubah wisuda, peci rapi, dan selempang bertuliskan “Wisuda Tahfidz”. Di barisan kursi orang tua, tangan-tangan gemetar mengangkat ponsel, berusaha mengabadikan momen sakral yang mungkin hanya sekali dalam hidup: hari ketika putra-putri mereka diwisuda sebagai penghafal Al-Qur’an.

Sebagian orang tua tak lagi mampu menahan air mata. Bukan air mata kesedihan, melainkan tangis bahagia yang pecah setelah bertahun-tahun menemani perjalanan panjang anak-anak mereka di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Ruhama—sekolah yang dikenal sebagai salah satu “rumah” bagi calon-calon penghafal Qur’an. 

Bagi sebagian orang, hafal satu, dua, atau bahkan beberapa juz Al-Qur’an mungkin terdengar sederhana. Namun di balik setiap ayat yang menempel di hati anak-anak ini, ada cerita panjang tentang kesungguhan dan kesabaran.

Pagi-pagi sekali, ketika sebagian orang masih sibuk berjuang melawan kantuk, para siswa sudah duduk rapi di kelas tahfidz. Mushaf dibuka, bibir kecil mereka mulai melafazkan ayat demi ayat. Ada yang lancar, ada yang harus mengulang berkali-kali. Kadang muncul rasa lelah, kadang muncul godaan untuk menyerah.

Di rumah, orang tua ikut berjihad. Mereka mengulang hafalan bersama anak, mematikan televisi lebih awal, mengganti waktu bermain menjadi waktu muraja’ah. Tidak sedikit yang harus belajar tajwid dari nol demi bisa menemani putra-putrinya. Di sinilah letak keindahannya: bukan hanya anak yang belajar, tapi seluruh keluarga “naik kelas” bersama.

Di balik momen wisuda yang penuh haru itu, ada para guru yang diam-diam menahan tangis. Mereka bukan sekadar pengajar; mereka adalah murabbi yang dengan sabar membetulkan makhraj, mengingatkan adab, dan menguatkan semangat ketika hafalan terasa berat.

Merekalah yang setiap hari berkata pelan, “Bismillah, kita ulang lagi ya… pelan-pelan saja. Yang penting istiqamah.”
Merekalah yang diam-diam mendoakan murid-muridnya di sepertiga malam.
Merekalah yang berkali-kali menahan lelah demi satu tujuan mulia: melihat ayat Allah tertanam kuat dalam dada anak-anak ini.

Saat nama-nama siswa dipanggil ke panggung wisuda, para guru sering kali menunduk, menyeka air mata. Ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan kata-kata ketika melihat anak yang dulu terbata-bata kini mampu melantunkan hafalan dengan yakin dan penuh keindahan.

Pada hari wisuda Tahfidz, suasana menjadi campur aduk: haru, bangga, bahagia. Ketika seorang anak maju, membaca beberapa ayat atau menjawab sambung ayat di depan tamu undangan, suasana tiba-tiba hening. Semua menahan napas, mengikuti setiap huruf keluar dari lisannya.

Begitu lantunan terakhir selesai, sering kali terdengar tepuk tangan spontan, disertai isak tertahan dari kursi orang tua. Sebagian ibu menutup wajah dengan kerudung, sebagian ayah berpura-pura merapikan kacamata untuk menyembunyikan mata yang berkaca-kaca.

Tangis bahagia itu menular. Mereka yang menyaksikan—bahkan yang bukan orang tua dari wisudawan—ikut merasakan getaran haru yang sama. Sebab di depan mereka, bukan hanya berdiri anak biasa, tetapi generasi yang sedang memikul amanah sebagai penjaga Kalamullah.

Wisuda Tahfidz di SIT Ruhama bukanlah garis akhir, melainkan titik awal. Wisuda menjadi penanda bahwa perjalanan akan berlanjut: menjaga hafalan, menambah hafalan, dan yang terpenting, menghadirkan akhlak Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Di sekolah penghafal Qur’an seperti SIT Ruhama, targetnya bukan hanya “banyak juz yang dihafal”, tetapi bagaimana Al-Qur’an hidup di tengah-tengah keluarga. Anak-anak diajak untuk tidak sekadar pandai membaca, tapi juga menghormati orang tua, menyayangi teman, dan menjaga amanah—sebagai wujud nyata dari nilai-nilai yang mereka pelajari dari ayat-ayat suci.

Momen wisuda seperti yang terekam dalam unggahan media sosial SIT Ruhama bukan hanya dokumentasi acara, tetapi juga undangan halus untuk para orang tua yang sedang mencari sekolah dengan lingkungan islami dan fokus pada tahfidz Al-Qur’an. Saat ini, Penerimaan Siswa Baru SIT Ruhama untuk tahun ajaran 2026/2027 telah dibuka, dengan konsep pendidikan yang menekankan hafalan Qur’an dan pembinaan karakter dalam satu paket. 

Bagi orang tua yang mendambakan putra-putrinya tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan Al-Qur’an, momen-momen seperti ini menjadi bukti nyata: dengan bimbingan yang tepat, dukungan sekolah, dan doa yang tak putus dari keluarga, anak-anak kita mampu melakukan hal-hal yang luar biasa.

Setiap tetes air mata di hari wisuda Tahfidz menyimpan doa yang sama:
“Ya Allah, jaga hafalan anak kami. Jadikan mereka generasi yang mencintai dan menjaga Al-Qur’an, dan jadikan kami orang tua yang Kau ridai.”

Wisuda boleh berakhir, tapi doa dan perjuangan tidak akan pernah selesai.
Dan di SIT Ruhama, setiap hari adalah langkah kecil menuju cita-cita besar: melahirkan generasi Qur’ani yang bukan hanya fasih melafazkan ayat, tapi juga indah akhlaknya di tengah masyarakat.

Kalau suatu hari nanti, saat dunia semakin bising dan penuh hiruk pikuk, ada seorang pemuda yang tenang hatinya karena Al-Qur’an sudah menyatu dalam dirinya—mungkin saja semuanya bermula dari sebuah panggung sederhana, dari seorang anak kecil dengan suara lirih, dari tangis bahagia di hari wisuda Tahfidz.


Tag: Tahfidz Wisuda
Bagikan: